BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Dalam defenisi yang bagaimanapun, pendidikan adalah tindakan khas manusia. Artinya, pendidikan berlangsung dari, oleh, dan untuk manusia. Maka dari itu konsep tentang pendidikan akan selalu berhubungan dengan harkat dan martabat menjadi seorang manusia. Beragam teori tambal dan sulam, kritik dan rekomendasi, debat dan sanggahan dan akhirnya akan bermuara pada cara bagaimana yang paling efektif, efesien, mulia, dan benar untuk memanusiawikan manusia. Persoalan tentang pendidikan dipahami selain sebagai proses, juga hasil. Pada tatanan proses, pedidikan sebagaimana ditulis dalam buku pengantar pendidikan merupakan serangkaian interaksi manusia dengan lingkungan yang dilakukan secara sengaja dan terus menerus. Sementara itu disisi lain, sebagai hasil pendidikan menunjuk pada hasil interaksi manusia dengan lingkungannya berupa perubahan dan peningkatan kognisi, afektif dan psikomotorik. Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peredaban manusia yang terus berkembang sehingga berkaitan dengan masalah sosial. Dalam dunia pendidikan tentunya tak terlepas dari ketiga unsur yakni keluarga, sekolah, dan masyrakat. Tumpang tindih satu sama lain antara pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan dimasyarakat akan mempengaruhi tatanan sosial di seluruh aspek pendidikan tersebut yang nyatanya menimbulkan masalah-masalah yang dapat merubah sistem dalam masyarakat, serta berdampak pada tatanan sosial. Untuk mengantisipasi masalah sosial yang akan berdampak pada tatanan masyrakat tentunya sangat diperlukan untuk pengembangan pendidikan baik dalam segi administrasi dan sistem pendidikan perlu untuk sangat diperhatikan mengingat hal yang bertalian satu sama lain dan saling mempengaruhi tentunya merupakan tantangan tersendiri bagi seluruh aspek sosial yakni masyarakat dan juga pendidikan itu sendiri. Nah dalam makalah ini akan dibahas mengenai mengapa pendidikan sebagai salahsatu masalah sosial apakah yang menyebabkan pendidikan dikatakan sebagai suatu masalah dan dampaknya kepada ruang lingkup sosial.
Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas yang penulis dapat ambil sebagai rumusan masalah yaitu
Mengapa Pendidikan dikatan sebagai salahsatu masalah sosial?
Apa saja bentuk masalah sosial dalam pendidikan?
Tujuan Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan makalah ini yaitu:
Untuk mengetahui Mengapa Pendidikan dikatan sebagai salahsatu masalah sosial.
Untuk mengetahui Apa saja bentuk masalah sosial dalam pendidikan.
BAB II PEMBAHASAN
Pendidikan Sebagai Salahsatu Masalah Sosial Sebelum jauh melangkah yang berkaitan dengan pendidikan sebagai salah satu masalah sosial, terlebih dahulu yang akan dibahas adalah defenisi pendidikan dan juga apa pengertian masalah sosial. Ada banyak defenisi tentangpendidikan. Ahli yang satu dengan yang lain terkadang memberikan defenisi yang berbeda tentang pendidikan. Perbedaan defenisi pendidikan masisng-masing ahli tentu dipengaruhi oleh disiplin ilmu dan pengalaman mereka. Namun demikian, pada semua degenisi pendidikan terdapat titik temu satu sama lain. Uraian berikut akan mengetengahkan beberapa defenisi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli dengan maksud untuk memperluas pemahaman pembaca tentang pendidikan. Defenisi pendidikaan Brubacer Menurut Brubacer (Modern philosophies of education), pendidikan merupakan proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, teman, dan alam semesta. Pendidikan merupakan pula perkembangan yang terorganisir dan kelengkapan dari semua potensi manusia; moral, intelektual dan jasmani (pancaindra), dan untuk kepribadian individu dan kegunaan masyarakatnya yang diarahkan demi menghimpun semua aktivitas tersebut untuk tujuan hidupnya (tujuan akhir). Pendidikan adalah proses yang mana potensi-potensi manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik, oleh alat (media) yang disusun sedemikian rupa, dan dikelola oleh manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri dalam mencapai tujuan yang ditetapkan (Tim Dosen FIP IKIP Malang, 1988: Danim 2011:4) Defenisi pendidikan Redja Mudyahardjo Redja Mudyahardjo (Mudyahardjo, 2012:3) memberikan defenisi pendidikan yang sangat luas. Menurutnya, pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala sesuatu hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Defenisi pendidikan Noor Syam Noor Syam (Danim:2011:4) mendefenisikan pendidikan sebagai aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu ruhani (pikir,karsa,rasa,cipta,dan budi ruhani) dan jasmani (pancaindra serta keterampilan-keterampilan). Defenisi pendidikan UU RI Nomor 20 tahun 2001 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 mendefenisikan pendidikan sebagai berikut “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan ptensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyrakat, bangsa, dan Negara” Sedangkan pengertian dari masalah sosial adalah kondisi yang terlahir akibat kondisi masyrakat yang tidak ideal. Dan defenisi lainnya adalah ketidak sesuaian unsure-unsur masyarakat yang bisa membahayakan kehidupan kelompok sosial. Beberapa contoh masalah sosial antara lain : Kemiskinan Adalah suatu keadaan dimana telah terjadi ketidakmampuan untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar dalam kehidupan, antara lain seperti sandang, pangan, dan papan. Kemiskina tidak hanya terjadi di desa pelosok-pelosok saja akan tetapi bisa juga terjadi di daerah perkotaan. Pengangguran Adalah salah satu contoh permasalahan sosial saat ini, naiknya jumlah pengangguran umumnya disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah penduduk tetapi tidak diikuti oleh banyaknya lapangan pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang masih terbatas. Hal seperti ini harus segera diatasi, caranya adalah dengan cara membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya agar mengurangi jumlah pengangguran yang ada. Pendidikan Kurangnya pendidikan merupakan salah satu masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat, misalnya banyak anak-anak yang lebih memilih membantu orang tuanya mencari nafkah, dikarenakan ketidakmampuan mereka dalam hal membiayai sekolah Jadi dari penjelasan-penjelasan diatas kita bersama mengetahui bahwa pendidikan sebagai salah-satu masalah sosial dikarenakan pada krisis pendidikan itu sendiri yang akan berdampak kepada kondisi kelompok sosial, baik dalam segi ekonomi berdampak dan bahkan sampai segi manajemen hidup seseorang dapat berpengaruh terhadap masyarakat pada umumnya. Bentuk-bentuk masalah sosial dalam pendidikan Pendidikan baru dari berbagai disiplin keilmuan yang dilakukan secara integralistik amat diperlukan, untuk mendorong pendidikan islam yang mampu menghadapi masyarakat teknologi masa depan yang makin teknologis. Barang siapa dapat menguasai IPTEK, ia akan dipertahankan dengan sistem pendidikannya dimasa depan. Inilah suatu orientasi baru pendidikan islam kepada masa depan yang serba ditakuti dan dicemaskan keadaanya, oleh futurology seperti (Alvin Toffler 1965, p.109) mengeluhkan bahwa “disorientasi yang memusingkan kepala yang ditimbulkan kedatangnnya hari esok begitu cepat” menyebabkan sekolah kita kedodoran mengerjar ketertinggalan, bagaikan memburu laying-layang yang benangnya terputus diudara terbuka. Beberapa ahli perencanaan pendidikan masadepan telah mengidentifikasikan krisis pendidikan yang bersumber dari krisis orientasi masyarakat masa kini, dapat pula dijadikan wawasan perubahan sistem pendidikan, yang mencakup fenomena-fenomena antara lain sebagai berikut. Krisis nilai-nilai Krisis nilai berkaitan dengan masalah sikap menilai sesuatu perbuatan tentang baik dan buruk, pantas dan tak pantas, benar dan salah dan hal hal lain yang menyangkut perilaku etis individual dan sosial. 2. Krisis konsep tentang kesepakatan arti hidup yang baik. Masyarakat mulai mengubah pandangan tentang cara hidup bermasyarakat yang baik dalam bidang ekonomi, politik, kemasyarakatan, dan implikasinya terhadap kehidupan individual. 3. Adanya kesenjangan kredibilitas Dalam masyarakat manusia saat ini dirasakan erosi kepercayaan dikalangan kelompok penguasa dan penanggung jawab sosial. Di kalangan orang tua, guru, pengkhutbat agama di mimbar rumah ibadah, penegak hukum dan sebagainya mengalami keguncangan wibawa, mulai diremehkan orang yang mestinya menaati atau mengikuti petuah- petuahnya . 4. Beban isititusi sekolah kita terlalu besar melebihi kemampuannya. Sekolah kita dituntut untuk memikul beban tanggung jawab moral dan sosiokultural yang tidak termasuk program instruksional yang didesain, oleh karnanya sekolah tidak siap memikul tanggung jawab tersebut. 5. Kurangnya sikap idealisme dan citra remaja kita tentang peranannya di masa depan bangsa. Sekolah dituntut untuk mengembangkan idealism dan self-image, generasi muda untuk berwawasan masa depan yang realistis. Sehingga mereka mau mempersiapkan diri untuk berperan serta dalam pembangunan bangsanya sesuai dengan keahlian , keterampilan, dan ilmu pengetahuan serta teknologi yang amat diperlukan oleh Negara. 6. Kurang sensitive terhadap kelangsungan masa depan. Falsafah hidup yang dogmatis dan statis yang tidak mengacu kepada kelangsungan hidup masa depan, tidak dapat lagi diandalkan untuk menjadi landasan hidup sekolah masa kini. Tradisi- tradisi yang tidak memberikan kebebasan berpikir dan berkreasi terhadap anak didik harus dibuang jauh, sehingga sekolah kita akan menjadi institusi kependidikan yang dinamis. Ini mendorong anak didik belajar secara intensif berorientasi kearah masa depan tekno, sosio dan bio yang realistis, tapi moralistis. 7. kurangnya relefansi program pendidikan disekolah dengan keburuhan pembangunan. Sekolah yang mendukudng kepentingan elitis nonpopulis, tidak demokratis, tidak berorientasi kearah kepentingan pembangunan sehingga tidak dapat mempertahankan eksistensi dalam masyarakat yang sedang membangun. 8. Adanya tendensi dalam pemanfaatan secara naïf kekuatan teknologi canggih. Kenaifan dalam pemanfaatan kekuatan teknologi modern menimbulkan keprihatinan para pencinta lingkungan hidup yamg ideal. Bahkan menyebabkan timbulnya kerawanan yang dapat menghancurkan kehidupan umat manusia itu sendiri. Seperti krisis energi, menusutnya hutan, menciutnya areal tanah yang dapat di Tanami tumbuhan yang menghasilkan bahan pangan, populsi air dan udara. 9. Makin membesarnya kesenjangan diantara kaya dan miskin. Sekolah kita yang diandalkan menjadi tumpuan harapan bagi peningkatan kesejahteraan hidup ekonomis, terutama bagi alumni- alumninya, memerlukan dukungan masyarakat secara berimbang. Bukan hanya golongan kaya saja yang dapat menyekolahkan anaknya, akan tetapi juga golongan miskin yang terpuruk. Oleh karena itu, sekolah dituntut untuk berlaku adil dan bersikap demogratis terhadap pendaftaran masuk sekolah dan sekaligus mendidik demokrasian dan persamaan serta keadilan sosial dalam pola hidup ekonomis untuk kemakmurannya yang merata. 10. Ledakan pertumbuhan penduduk. Dilihat dari segi demokratis, dunia penduduk kita telah tumbuh demikian lajunya sehingga sejak tahun 1970 sampai dengan tahun 1985 mengalami pertumbuhan penduduk dari tiga miliar jiwa menjadi lebih kurng lima miliar jiwa. Sekurang – kurangnya sepertiga adalah terdiri anak- anak usia sekolah yang menyerbu sekolah. Belum diperhitungkan pengangguran dari lulusan sekolah kita setiap tahun semakin membengkak, karena penyediaan lapangan kerja cepat perluasannya dari pertumbuhan pencari kerja. 11. Masih bergesernya sikap manusia kearah pragmatisme yang pada gilirannya membawa kearah materialisme dan individualisme. Kecenderungan manusia modern saat ini mulai melengahkan nilai-nilai agama, dimana hidup yang bernilai asketik dan serta berorientasi kea rah ukrawhi semakin mengendor bahkan mengorosi jiwa pribadi dan masyarakat. Hubungan antar manusia bukan lagi berdasarkan sambung rasa, tetapi berdasarkan hubungan industrial, keuntungan materi dan status, semakin mendesak hubungan prikemanusiaan dan solidaritas serta rasa kegoting-royongan senasib sepenanggungan. Sikap dan pola hidup yang lebih mengedepankan dekadensi moral dan kekayaan materi, mengurangkan sikap dan pola hidup sederhana dan berorientasi kepada nilai-nilai agama. 12. Makin menyusutnya jumlah ulama tradisional dan kualitasnya. kecenderungan tersebut sudah tampak gejala-gejalanya di daerah perkotaan negeri kita dalam era pembangunan saat ini. Apalagi dalam era tahun 2003 keatas nanti. Sampai berapa besarkah yang harus dipertanggungjawabkan oleh institusi-institusi sosial dan pendidikan dapat ditunaikan. Prospek dari inovasi sosialpendidikan kita masih mempunyai kesempatan untuk mengharapkan cahaya cerah dimasa dengan persiapan yang lebih sensitive dan inovatif. Kita harus bersikap “lebih baik kita berusaha dan bekerja dalam sector-sektor kecil yang penting daripada tidak mengerjakan sesuatu sama sekali”. Small Is Beautiful, kata Schomacher.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan Pendidikan sebagai salah-satu masalah sosial dikarenakan pada krisis pendidikan itu sendiri yang akan berdampak kepada kondisi kelompok sosial, baik dalam segi ekonomi berdampak dan bahkan sampai segi manajemen hidup seseorang dapat berpengaruh terhadap tatanan masyarakat dan kondisi sosial pada umumnya. Adapun bentuk-bentuk maslah sosial dalam dunia pendidikan yaitu : Krisis nilai-nilai.. Krisis konsep tentang kesepakatan arti hidup yang baik. Krisis konsep tentang kesepakatan arti hidup yang baik. Adanya kesenjangan kredibilitas. Beban isititusi sekolah kita terlalu besar melebihi kemampuannya. Kurangnya sikap idealisme dan citra remaja kita tentang peranannya dimasa depan bangsa. Kurang sensitive terhadap kelangsungan masa depan. Adanya tendensi dalam pemanfaatan secara naïf kekuatan teknologi canggih. Makin membesarnya kesenjangan diantara kaya dan miskin. Ledakan pertumbuhan penduduk. Masih bergesernya sikap manusia kearah pragmatisme yang pada gilirannya membawa kearah materialisme dan individualisme. Makin menyusutnya jumlah ulama tradisional dan kualitasnya. Saran Kepada pembaca diharapkan mampu mempergunakan sebaik-baiknya sebagai bahan penambah wawasan dan cakrawala berpikir. Saran kepada mahasiswa jangan hanya sekedar tau tapi kenalilah.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Rulam. 2016. Pengantar Pendidikan Asas dan Filsafat Pendidikan. Yogyakarta : AR-RUZZ MEDIA Arifin, Muzayyin. 2007. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta:PT. Bumi Aksara. Danim, Sudarwan. 2011. Pengantar Pendidikan: Landasan, Teori, dan 234 Metafora Pendidikan. Bandung : Alfabeta. Hasbullah. 2011. Dasar- dasar Ilmu Pendidikan. Banjarmasin: PT. Raja Grafindo Persada. Mudyahardjo, Redja. 2006. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. http://defenisi-pengertian-masalah-sosial-faktor-dan-contohnya/#. Diakses pada tanggal 3 maret 2018